Saksi Kunci Dihadirkan, Mantan PM Israel Mulai Jalani Sidang Dugaan Korupsi

  • Laporan:

SinPo.id - Mantan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (72) mulai menjalani sidang atas dugaan kasus korupsi, penipuan, serta pelanggaran kepercayaan yang dituduhkan kepadanya. Dalam kasus ini, seorang saksi kunci dihadirkan pihak pengadilan setempat.

Saksi kunci itu yakni mantan ajudan Benjamin dan keluarganya, Nir Hefetz. Ia memberikan kesaksian di ruang sidang Distrik Yerusalem pada Senin (22/11).

Dalam kesaksian pembukaannya, Hefetz mengatakan Netanyahu adalah "penggila kendali" dalam hal citranya di hadapan publik. Hafetz menerangkan Netanyahu mempunyai kendali sangat tinggi terkait dengan media sosial dan media massa.

"Kendalinya atas segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah media dan media sosialnya bisa lebih tinggi," ujar Hefetz.


“Netanyahu menghabiskan banyak waktu berselancar di media, sama banyaknya seperti waktu yang dia habiskan untuk mengontrol masalah keamanan, termasuk hal-hal yang dianggap tidak masuk akal oleh orang luar,” kata Hefetz di pengadilan.

Mantan jurnalis tersebut menjadi juru bicara dan penasihat keluarga Netanyahu pada tahun 2014. Pada tahun 2018, setelah dia ditangkap sehubungan dengan salah satu kasus korupsi Netanyahu, dia menandatangani kesepakatan saksi negara dan memberikan rekaman percakapan dengan Netanyahu dan keluarganya kepada penyelidik.

Dia adalah salah satu dari sekelompok kecil mantan pembantu yang mengubah kesaksian negara terhadap mantan perdana menteri negara itu dan diharapkan memberikan kesaksian kritis selama beberapa minggu.

Kesaksian Hafetz tertunda sepekan setelah pengacara pembela Netanyahu meminta waktu untuk meninjau bukti baru. Bukti baru tersebut menuduh istri Netanyahu, Sara, telah menerima sebuah gelang mahal sebagai hadiah dari dua miliarder yaitu produser Hollywood Arnon Milchan dan miliarder Australia James Packer.

Netanyahu muncul di Pengadilan Distrik Yerusalem Senin pagi dan ditemani oleh sesama politisi dari partai Likud. Dia adalah terdakwa dalam tiga kasus terpisah. Kasus pertama, Netanyahu didakwa menerima hadiah senilai ratusan ribu dolar dari sejumlah miliarder termasuk Milchan dan Packer.


Pada kasus kedua, Netanyahu dituduh mengatur liputan positif di sebuah surat kabar besar Israel dengan imbalan mempromosikan undang-undang yang akan merugikan saingan utama outlet berita tersebut.

Kasus ketiga, yang dijuluki Kasus 4000, menuduh Netanyahu mempromosikan undang-undang senilai ratusan juta dolar kepada pemilik raksasa telekomunikasi Israel, Bezeq, dengan imbalan liputan positif di situs berita Walla.

Netanyahu telah menolak seruan untuk mundur dari kepemimpinan Israel setelah didakwa melakukan kesalahan pada 2019. Dia memanfaatkan jabatannya sebagai perdana menteri untuk mengecam penegakan hukum, media, dan pengadilan karena meluncurkan perburuan penyihir terhadap dirinya.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar