UN Women: Kekerasan, Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan Meroket Selama Pandemi

  • Laporan:

SinPo.id - Sebuah laporan baru dari Entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) menyoroti dampak COVID-19 terhadap keselamatan perempuan di rumah dan di ruang publik.

Hampir setengah dari perempuan melaporkan bahwa mereka atau perempuan yang mereka kenal mengalami bentuk kekerasan sejak awal pandemi COVID-19, menurut laporan, "Mengukur pandemi bayangan: Kekerasan terhadap perempuan selama COVID-19," yang didasarkan pada data survei dari 13 negara.

Dikutip dari Xinhua News, Jumat (26/11), sekitar seperempat wanita merasa kurang aman di rumah sementara konflik yang ada meningkat di dalam rumah tangga sejak pandemi dimulai, menurut laporan itu, yang dirilis pada peringatan Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, yang jatuh pada Kamis (25/11) ini.

Ketika perempuan ditanya mengapa mereka merasa tidak aman di rumah? Sbanyak 21 persen menyebutkan salah satu alasannya yaitu karena kekerasan fisik.

Sejumlah wanita yang secara khusus melaporkan bahwa mereka disakiti oleh anggota keluarga lain adalah sebanyak 21 persen atau bahwa wanita lain dalam rumah tangga tersebut disakiti sebanyak 19 persen.

Di luar rumah, perempuan juga merasa lebih rentan terhadap kekerasan, dengan 40 persen responden mengatakan mereka merasa kurang aman berjalan-jalan sendirian di malam hari sejak awal COVID-19.

Sekitar tiga dari lima wanita juga berpikir bahwa pelecehan seksual di ruang publik memburuk selama COVID-19.

Faktor tingkat stres sosial-ekonomi seperti tekanan keuangan, pengangguran, kerawanan pangan, dan hubungan keluarga yang tegang pun menonjol karena memiliki dampak yang signifikan tidak hanya pada pengalaman keamanan (atau kekerasan), tetapi juga pada kesejahteraan perempuan secara keseluruhan.

“Kekerasan terhadap perempuan merupakan krisis global yang berkembang di atas krisis lain. Konflik, bencana alam terkait iklim, kerawanan pangan, dan pelanggaran hak asasi manusia semuanya berkontribusi dalam membuat perempuan dan anak perempuan hidup dengan perasaan tidak aman, bahkan di rumah mereka sendiri, lingkungan, atau komunitas," kata Direktur Eksekutif UN Women Sima Bahous dalam siaran persnya.

"Pandemi COVID-19, yang mengharuskan isolasi dan jarak sosial, memungkinkan terjadinya pandemi bayangan kekerasan kedua terhadap perempuan dan anak perempuan, tempat mereka sering kali terkunci dengan pelakunya. Data baru kami menggarisbawahi urgensi upaya bersama untuk mengakhiri ini," katanya.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar