Kazakhstan Mencekam, Rusia Mulai Kirim Pasukan Perdamaian

  • Laporan:

SinPo.id - Pesawat pertama dengan pasukan penjaga perdamaian Rusia lepas landas ke Kazakhstan pada Kamis (6/1) pagi, ketika negara Asia Tengah itu masih dicengkeram aksi protes dengan kekerasan yang dipicu oleh kenaikan tajam harga bahan bakar setelah Tahun Baru. 

Rekaman yang menunjukkan pasukan terjun payung Rusia menaiki pesawat angkut Ilyushin Il-76 di lapangan terbang Chkalovsky di luar Moskow telah diposting online oleh saluran televisi Zvezda Kementerian Pertahanan seperti dikutip dari Russia Today. 

Presiden Kazakh Kassym-Jomart Tokayev meminta bantuan dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), pada Rabu malam. CSTO adalah perjanjian keamanan antara enam negara bekas Soviet: Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Rusia, dan Tajikistan. Organisasi ini berjalan di sepanjang garis yang mirip dengan blok NATO pimpinan Amerika Serikat (AS). 

Azerbaijan adalah anggota asli organisasi tersebut pada saat pendiriannya pada tahun 1994, tetapi mengundurkan diri pada tahun 1999. Kirgistan hampir saja meminta pengerahan pasukan penjaga perdamaian pada 2010, selama bentrokan antara penduduk etnis Kirgistan dan Uzbekistan, tetapi pada kesempatan itu aliansi tidak setuju untuk memberikan bantuan militer. 

Permohonan Tokayev mengikuti kerusuhan di kota terbesar negara itu, Almaty, dan di tempat lain di Kazakhstan. Menurut Tokayev kerusuhan itu dihasut oleh “teroris internasional” yang ingin merusak integritas teritorial negara itu. 

Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan, yang saat ini memimpin CSTO, mengumumkan bahwa blok tersebut telah menyetujui pengerahan pasukan penjaga perdamaian ke Kazakhstan untuk jangka waktu terbatas untuk menstabilkan dan menormalkan situasi. 

Namun, rincian operasi yang dimaksud belum terungkap. Aksi protes di seluruh Kazakhstan dimulai pada hari-hari pertama tahun 2022, merespons kenaikan harga bahan bakar gas cair yang mencapai dua kali lipat. Kenaikan harga itu dikarenakan pemerintah menarik subsidi dan menyerahkan harga kepada mekanisme pasar. Awalnya demonstrasi berjalan damai namun dengan cepat berubah menjadi kekerasan, dengan Almaty menjadi pusat kerusuhan. 

Massa yang marah menyerbu gedung-gedung pemerintah dan bandara di kota berpenduduk dua juta orang itu pada Rabu. Massa juga menjarah toko-toko dan bank. 

Semalam kantor polisi menjadi sasaran di seluruh Almaty, dengan penegak hukum mengatakan bahwa lusinan penyerang telah dihabisi. Militer Kazakhstan juga dikerahkan di kota itu, terlibat baku tembak dengan para perusuh di alun-alun utamanya.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar