Dewan Pers SinPo

Tahu Sumedang, Kuliner Asal Tionghoa diciptakan Sebagai Bukti Cinta

Oleh: Ulil Albab
Rabu, 05 Oktober 2022 | 08:11 WIB
Foto Keluarga Ong Bung Keng (M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy dalam Tahu Sejarah Tahu Sumedang)
Foto Keluarga Ong Bung Keng (M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy dalam Tahu Sejarah Tahu Sumedang)

SinPo.id -  Tahu Sumedang yang dikenal gurih di lidah dan empuk dalam gigitan yang selama ini kita rasakan, merupakan salah satu makanan khas akulturasi Tiong Hoa dan di tanah Jawa.  Makanan berbahan dasar kedelai yang biasa kita nikmati dengan cabai mentah itu mengingatkan tentang Ong Ki No bersama isterinya yang telah berlayar dari Tiongkok ke Indoensia, saat itu disebut Hindia Belanda.

Sam Setyautama, dalam Tokoh-Tokoh etnis Tionghoa di Indonesia,  menyebut sekitar tahun 1900an, Ong Ki No memutuskan menetap di Sumedang. Bersama sang istri ia menjalani profesi awal sebagai pedagang keripik tapioka berbahan dasar singkong.

“Setelah tinggal cukup lama di Sumedang. Ternyata  isteri Ong Ki No rindu makanan kesukaannya asli Tionghoa bernama tao-fu yang lebih dikenal orang bumiputera saat itu sebagai tao-hu atau mudah dikatakan tahu.

“Karena perasaan sayangnya kepada  sang istri, Ong Ki No rela pergi berkeliling mencari kacang kedelai,  bahan baku utama tahu” tulis M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy dalam Sejarah Tahu Sumedang.

Ong Ki No akhirnya berhasil menemukan kedelai di wilayah Conggeang, yang terkenal kebun tanaman palawija. Setelah mendapatkan kedelai, dengan menggunakan 70  persen bahan baku air jernih yang didapatkan di antara Cimalaka dan Tanjungsari, Ong Ki No berhasil  mengolahnya menjadi tahu.

“Tahu pertama yang berhasil dibuat Ong Ki No belum seperti tahu  Sumedang yang sekarang kita kenal. Saat itu tahu yang dibuat masih  tahu putih khas Tiongkok yang direbus,” tulis M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy

Selain untuk konsumsi pribadi, Ong Ki No terkadang membagikan tahu buatannya ke sesama warga etnis Tionghoa jika ada perayaan, termasuk kepada bumiputera. Ternyata tahu buatannya mendapatkan respon positif dari masyarakat Sumedang.

Ong Ki No kemudian berpikir tahu buatannya dapat diperdagangkan.  Sayangnya, setelah usaha tahu Ong Ki No dirintis, hasilnya tak memuaskan hanya sedikit pembeli yang datang. Pasangan  Ong Ki No dan isteri terpikir untuk berencana pulang ke Negeri Tiongkok pada tahun 1917.

Sukses ditangan Anaknya

Namun, di saat yang bersaman putra Ong Ki No, bernama Ong Bung Keng datang  ke Sumedang. Sebelum pergi ke Tiongkok, Ong Ki No bersama isterinya kemudian meminta anaknya agar meneruskan usaha tahunya.

Ong Bung Keng menerima permintaan orang tuanya. Ia berpikir keras memasarkan tahu yang diproduksi, langkah yang dapat dilakukan agar bisnis tahunya menarik banyak orang.  Hasilnya Ong Bung Keng menemukan tahu ternyata tak hanya bisa direbus, namun juga bisa digoreng.

“Hasilnya adalah tahu goreng yang memiliki tekstur lebih  renyah  dan  rasa  yang  lebih  gurih  daripada  tahu  putih  rebus.  Selain  itu, , muncullah aroma tahu goreng yang khas,  yang menjadi daya tarik juga untuk orang lain,” tulis M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy

Dari situ Ong Bung Keng yakin dapat menjual tahu Sumedang yang digoreng. Awalnya Ong Bung Keng menjualkan tahu langsung kepada konsumen dengan bersepeda.

Setelah modalnya cukup, ia barulah membuka kios kecil yang saat ini berada di Jalan 11 April, Kota Sumedang.

Dari situ kemudian Ong Bung Keng mulai membuka lapangan pekerjaan untuk pegawai tahunya. Tak hanya sesama warga Tionghoa yang diajak, namun juga dari bumiputera.

Para pegawai tersebut mengambil tahu dari pabrik dan menjualnya ke tempat umum seperti terminal, pasar, pinggir jalan raya ataupun menjajakan langsung ke rumah penduduk.

“Saat  itu  Tahu Bungkeng  hanya   memproduksi 500 potong tahu per hari, dengan harga adalah 5 sen per potong,”tulis M.Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy

Sekitar tahun 1928, kios Ong Bung Keng ternyata sempat disambangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeriaatmadja saat hendak mengunjungi wilayah Situraja. Soeriaatmadja membali tahu Sumedaang milik Ong Bung Keng, karena aroma tahunya yang belum pernah dikenalnya. Kesuksesan Ong Bung Keng, pada tahun 1939 diikuti oleh teman sebangsa Tionghoa yakni Odjo Mihardja.

Terhambat Bahan Baku Saat Invasi Jepang, Berjaya Usai Kemerdekaan

Sayangnya memasuki masa Jepang, industri tahu Sumedang, mulai terdesak, karena hanya pendapatkan jatah kedelai 8  kilogram saban pekan.  Tak berselang lama, paska kemerdekaan Indonesia, industri tahu Sumedang semakin Berjaya, apa lagi pemerintah memberikan bantuan mesin produksi pengolahan.

Hal ini kemudian memunculkan perusahaan tahu baru lainnya yang didirikan mantan pegawai Ong Bung Keng yakni tahu  Ojolali yang dimiliki Ojo Saputra dan tahu Yoe Fo.

Baru tahun 1960 untuk pertama kali tahu Sumedang juga diproduksi oleh kalangan bumiputera yang bernama Epen Oyib dimana tahunya dikenal sebagai tahu Saribumi.

Oyib tercatat sebagai perintis penjual tahu Sumedang yang menjajakan ke luar daerah diantaranya Jakarta dan kemudian ke Bogor. Sayangnya di dua  tempat tersebut usaha Oyib tak berhasil. Hingga akhirnya Oyib kembali ke Sumedang dan justru mendulang sukses.

Sekitar tahun 1970-1990 industri tahu Sumedang mengalami masa kejaayaannya. Namun ketika krisis ekonomi tahun 1997 melanda Indonesia, pertumbuhan industri tahu Sumedang mengalami perlambatan.

Setelah krisis berlalu, industri tahu Sumedang pun kembali bangkit dan semakin masif. Berdasarkan  pada  data  Dinas   Koperasi,  Usaha  Kecil,  Menengah,  Perdagangan,  dan  Perindustrian Kabupaten  Sumedang,  pada  2016,  setidaknya  terdapat  42  industri  tahu. (*)

 sinpo

Komentar: