Dewan Pers SinPo

Gambang Kromong, Alat Musik Perpaduan Pribumi dan Etnis Tionghoa

Laporan: Khaerul Anam
Selasa, 25 Oktober 2022 | 08:56 WIB
Foto Seniman Gambang Koromong ( SinPo.id/Istimewa)
Foto Seniman Gambang Koromong ( SinPo.id/Istimewa)

SinPo.id - Orkes Gambang kromong merupakan alat musik tradisional yang sering ditemui dalam acara masyarakat Betawi. Pada awalnya, Gambang kromong muncul dan populer di kalangan masyarakat peranakan Tionghoa dan Betawi yang dulu mendiami wilayah di Batavia atau yang sekarang dikenal Jakarta.

Nama Gambang Kromong diambil dari alat perkusinya, yakni Gambang dan Kromong. Keduanya merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa terlihat pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur dari pribumi.

Perpaduan kedua unsur kebudayaan itu terlihat pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Selain lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti jali-jali, surilang, onde-onde, gelatik ngungkuk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Macuntay, Gutaypan, dan sebagainya.

Sejarah Gambang Kromong

Terbentuknya Gambang Kromong tak lepas dari peran Nie Hoe Kong, seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda pada era 1730-an. Nie Hoe Kong sendiri menjabat sebagai pimpinan kelompok etnis Thionghoa di Batavia selama empat tahun dari 1736-1740.

Dikutip dari buku Seni dan Budaya karya Harry Sulastianto, gambang kromong awalnya diperkenalkan oleh warga etnis Tionghoa dan keturunannya pada zaman Penjajahan Belanda. Saat itu, masyarakat Tionghoa banyak yang mendiami berbagai wilayah di Jakarta, sehingga mereka mencoba mengembangkan dan memperkenalkan musik tradisional yang berasal dari negerinya.

Selain etnis Tionghoa, Jakarta yang dulu dikenal Batavia juga didiami penduduk yang berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sunda, Sumatera, dan etnis asing lain seperti Belanda. Saat zaman penjajahan Belanda, penduduk Batavia (Jakarta) berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sunda, Sumatera, dan berbagai etnis asing, seperti etnis Belanda dan Cina.

“Jumlah warga dari etnis Cina semakin bertambah, sehingga mereka memperkenalkan musik tradisional termasuk gambang kromong," tulis Harry Sulastianto.

Phoa Kian Sioe dalam majalah Panca Warna No.9 tahun 1949 berjudul "Orkes Gambang, Hasil kesenian Tionghoa peranakan di Jakarta." Menyebut Orkes Gambang Kromong merupakan perkembangan dari orkes Yang Khim yang terdiri atas Yang-Khim, Sukong, Hosiang, Thehian, Kongahian, Sambian, Suling, Pan (kecrek) dan Ningnong.

Oleh karena Yang-Khim sulit diperoleh, maka digantilah dengan gambang yang larasnya disesuaikan dengan notasi yang diciptakan oleh orang-orang Hokkian. “Sementara alat musik lain seperti Sukong, Tehian dan Kongahian tidak begitu sulit untuk dibuat di Jakarta,” tulis Phoa Kian Sioe

Sedangkan alat musik lain di antaranya Sambian dan Hosiang di tiadakan tanpa terlalu banyak mengurangi nilai penyajian musik yang dibawakan secara utuh. Orkes Gambang yang semula digemari oleh kaum peranakan Cina saja, lama kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsungnya proses pembaruan.

Sekitar tahun 1880 atas usaha Tan Wangwe dengan dukungan tuan Bek (Wijk meester) atau Lurah Pasar Senen, Teng Tjoe, orkes gambang mulai dilengkapi dengan kromong, Kempul, Gendang dan Gong. Lagu-lagunya pun ditambah dengan lagu-lagu Sunda popular, sebagaimana ditulis oleh Phoa Kian Sioe sebagai berikut :

"Pertjobaan Wijk meester Teng Tjoe telah berhasil, lagoe-lagoe gambang ditaboeh dengan tambahan alat terseboet diatas membikin tambah goembira Tjio Kek dan pendenger-pendengernya. Dan moelai itoe waktoe moelai brani pasang selendang boeat "mengibing".

Sejak itulah kemudian dikenal dengan nama orkes Gambang Kromong.

Gambang Kromong Dari Masa ke Masa

Bila pada masa awal popularitas orkes Gambang Kromong umumnya hanya terbatas dalam lingkungan masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat yang langsung atau tidak langsung banyak menyerap pengaruh kebudayaannya.

Pada perkembangan kemudian, penggemarnya semakin luas, lebih-lebih pada tahun tujuh puluhan. Berbagai faktor yang menyebabkan diantaranya karena mulai banyak seniman musik pop yang ikut terjun berkecimpung di dalamnya seperti Benyamin. S, Ida Royani, Lilis Suryani, Herlina Effendi dan lain-lain.

Gambang Kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di Wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di Daerah sekitarnya di Jabodetabek.

Jika lebih banyak penduduk keturunan peranakan Cina dalam masyarakat Betawi setempat, maka lebih banyak pula terdapat grup-grup orkes Gambang Kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat misalnya, lebih banyak jumlah grup Gambang Kromong dibandingkan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Dewasa ini juga terdapat istilah 'Gambang Kromong Kombinasi', dimana orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar, organ, saksofon, drum dan sebagainya.

Perubahan itu disebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan.sinpo

Komentar:
BONGKAR
Aplikasi Sinpo
POJOK SINPO
Koran Sin Po edisi 14 Januari 1939 menulis berita “Super Microscoop”. Laporan tekhnologi itu menyebutkan laboratorium Jtlectron-Optisch dari Siemens & Halske di Duitschland telah telah mengumumkan satu temuan tekhnologi yang mampu melihah micro-organisme dan benda micro-inorganisch yang disebut alat super-microscoop.
- Koran Sin Po
BERITATERPOPULER