BRIN-BMKG Silang Informasi, DPR: Pemerintah Harus Beri Informasi Terukur

Laporan: Juven Martua Sitompul
Rabu, 28 Desember 2022 | 10:40 WIB
Suryadi Jaya Purnama/Parlementaria
Suryadi Jaya Purnama/Parlementaria

SinPo.id -  Perbedaan informasi antara Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) disorot banyak pihak. Pemerintah seharusnya tidak silang informasi.

BRIN sebelumnya menyebutkan potensi hujan ekstrem hingga badai bakal terjadi pada 28 Desember 2022 di wilayah Jabodetabek, khususnya Tangerang dan Banten. Sementara info, BMKG menyatakan cuaca di hari yang sama masih merupakan kategori aman karena intensitas hujan diperkirakan adalah hujan ringan hingga sedang.

“Sehubungan dengan hal tersebut,  pemerintah perlu untuk memberlakukan satu pintu bagi diseminasi informasi yang terukur tentang cuaca ekstrem, yaitu melalui BMKG sesuai Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Jangan sampai karena perbedaan informasi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” kata anggota Komisi V DPR RI, Suryadi Jaya Purnama melalui pesan tertulis, Jakarta, Rabu, 28 Desember 2022.

Kendati demikian, Politikus PKS ini tetap menyambut baik langkah pemerintah dalam melakukan berbagai antisipasi terhadap cuaca ekstrem terkait mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang telah disampaikan pada saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI pada tanggal 13 Desember 2022. 

“KemenPUPR juga telah menyelesaikan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi sebagai bendungan kering yang berfungsi sebagai pengendali banjir. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP)  atau Basarnas juga melaksanakan Siaga SAR Khusus Nataru 2023 dengan menempatkan personel dan alat utama di lokasi-lokasi strategis yang rawan kecelakaan/bencana di pelabuhan, ruas jalan tol, bandara, terminal bus, dan tempat wisata,” katanya. 

“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga berencana akan menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi potensi banjir akibat hujan ekstrem,” timpal Suryadi.

Oleh karena itu, kata dia, dengan berbagai persiapan pemerintah untuk mengantisipasi hujan ekstrem saat Nataru yang sudah sedemikian baik tersebut, Komisi V DPR juga meminta diseminasi informasi terkait cuaca bisa lebih ditingkatkan lagi. 

“Masyarakat tidak perlu menjadi resah sehingga terganggu aktivitas perekonomiannya. Para pemudik Nataru juga tidak perlu kebingungan dalam membuat rencana perjalanannya,” tegas dia. 

Sebelumnya, peneliti klimatologi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyampaikan adanya potensi banjir besar di kawasan Jabodetabek khususnya Tangerang atau Banten. 

Dia menyebut potensi hujan ekstrem hingga badai terjadi pada 28 Desember 2022. Hal tersebut berdasarkan analisis data dari Satellite Early Warning System (Sadewa). 

Namun, berbeda dengan BRIN, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jabodetabek memang terjadi hujan ekstrem namun bukan badai. Cuaca ini masih kategori aman karena intensitas hujan diperkirakan ringan hingga sedang.

Dari permodelan BMKG, Jabodetabek baru akan diguyur hujan lebat pada 30 Desember 2022. BMKG juga meminta semua pihak berhati-hati dalam penggunaan istilah karena hujan esktrem dan badai itu berbeda.sinpo

Komentar: