Survei LKSP: Popularitas Lima Partai Baru Masih Minim

Laporan: Juven Martua Sitompul
Jumat, 17 Maret 2023 | 11:52 WIB
Ilustrasi. KPU memasang 18 Bendera Parpol peserta Pemilu 2024/Ashar/SinPo.id
Ilustrasi. KPU memasang 18 Bendera Parpol peserta Pemilu 2024/Ashar/SinPo.id

SinPo.id - Survei Lingkar Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP) merilis hasil surveinya tentang konstalasi politik jelang Pemilu 2024. Hasil survei menunjukkan tingkat popularitas partai baru masih minim.

Dari 1.350 responden yang disurvei secara tatap muka, tingkat popularitas Partai Ummat, Partai Buruh, Partai Gelora, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) hanya mencapai 0,1 persen. Sementara itu, Partai Garuda hanya 0 persen alias tidak ada yang mengenal.

“Berdasarkan hasil survei yang sama diketahui juga tingkat popularitas PDIP mencapai 29,6 persen, Partai Golkar 17,0 persen, Partai Gerindra 9,9 persen, PKS 8,4 persen dan PKB 8,1 persen. Sedangkan Partai Demokrat 6,7 persen, Partai Nasdem 4,1 persen, PPP 3,5 persen, PAN 1,7 persen, Perindo 1,1 persen, PBB 0,4 persen, Partai Hanura 0,3 persen dan PSI 0,2 persen," kata Direktur LKSP Andika Rachman kepada media di Jakarta, Jumat, 17 Maret 2023.

Andika mengatajan selain popularitas yang minim, tingkat keterpilihan atau elektabilitas partai baru di Pemilu 2024 juga sangat rendah. Survei menanyakan responden partai politik (parpol) mana mana yang akan dipilih jika pemilu dilaksanakan pada hari ini.

Hasilnya, responden yang memilih Partai Gelora mencapai 0,2 persen dan Partai Buruh 0,1 persen. Sementara itu, yang memilih PKN, Partai Garuda, dan Partai Ummat hanya 0 persen.

"Berdasarkan hasil survei ini bisa dilihat bahwa ada beberapa partai baru yang secara popularitas sudah dikenal tetapi masyarakat masih ragu untuk memilihnya," kata Andika.

Menanggapi hasil survei tersebut, Direktur Center for Indonesian Reform (CIR) Hidayaturrahman menyebut partai baru peserta pemilu harus lebih aktif bersosialisasi kepada masyarakat. Hasil survei ini merupakan peringatan atau warning kepada partai-partai baru untuk lebih kreatif mengenalkan partai kepada masyarakat. 

Para pimpinan partai baru harus memahami bahwa keberadaan tokoh di partai bukan jaminan popularitas dan elektabilitas partai akan lebih baik. Karena itu, perlu didukung strategi sosialisasi yang komprehensif menggunakan berbagai sarana yang dibolehkan menurut undang-undang.

"Dengan kehadiran tokoh sekaliber Pak Amien Rais di Partai Ummat dan Fachri Hamzah di Partai Gelora perolehan suara kedua partai itu masih relatif minim. Bahkan bisa dibilang sangat memprihatinkan. Harusnya kan dengan adanya nama besar tokoh-tokoh itu bisa mendongkrak popularitas dan elektabilitas partai yang didirikannya," kata Hidayaturrahman.

Berdasarkan data ini disimpulkan jika popularitas tokoh pada partai tidak bisa dikonversi menjadi popularitas partai. Apalagi, dikonversi menjadi elektabilitas partai.

"Untuk mengubahkan perlu ada terobosan dan variabel lain yang perlu dilakukan partai,” kata Hidayat. 

Hidayat menambahkan karakter pemilih sekarang lebih rasional sehingga tidak bisa dipengaruhi hanya dengan variabel ketokohan semata. Pemilih umumnya akan memberikan dukungan kepada partai atau tokoh yang mempunyai program yang dibutuhkan. 

"Semakin banyak program yang bisa dirasakan oleh masyarakat maka akan semakin besar partai atau tokoh itu akan mendapat dukungan," kata dia.sinpo

Komentar: