Serangan Sekolah Di Kamerun, 3 Siswa Dan Seorang Guru Bahasa Prancis Tewas

  • Laporan:

SinPo.id - Serangan sekelompok orang bersenjata di sebuah sekolah di Wilayah Barat Daya Kamerun yang dilanda kekerasan, menewaskan sedikitnya tiga siswa dan satu guru, menurut sebuah kelompok hak asasi manusia setempat.

Pusat Hak Asasi Manusia dan Demokrasi di Afrika (CHRDA) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu bahwa beberapa lainnya terluka dalam serangan di Ekondo Titi.

Mereka mengidentifikasi siswa yang terbunuh berusia 12, 16 dan 17 tahun dan korban keempat sebagai guru bahasa Prancis.

"CHRDA lebih kuat mengutuk serangan terhadap anak-anak sekolah dan guru ini," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan, sambil menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah untuk "menyelidiki insiden itu secara menyeluruh tanpa keberpihakan,”.

"Ambil semua tindakan yang diperlukan untuk mengakhiri Krisis Anglophone dengan dialog yang jujur ​​dan inklusif," tambah pernyataan itu.

Konflik Anglophone yang telah berlangsung lebih dari empat tahun dimulai ketika pasukan pemerintah menggunakan kekuatan mematikan untuk menekan protes damai oleh para pengacara dan guru terhadap anggapan marginalisasi oleh pemerintah mayoritas berbahasa Prancis di negara itu.

Sebagai tanggapan, puluhan kelompok separatis bersenjata kemudian dibentuk untuk memperjuangkan negara merdeka bernama Ambazonia.

Sekitar 4.000 orang sejauh ini tewas dalam konflik, dengan lebih dari 700.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Kelompok hak asasi manusia menuduh separatis dan pasukan keamanan pemerintah melakukan pelanggaran.

Kenneth Nanji, walikota Ekondo Titi, juga membenarkan serangan di sekolah itu tanpa menyebutkan korban tewas.

Tidak ada klaim tanggung jawab segera.

Sementara itu, kekerasan yang memburuk di wilayah Anglophone Kamerun membuat warga sipil makin banyak menjadi korban dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sedangkan antara Oktober dan Desember 2020, PBB mencatat 35 serangan terhadap sekolah termasuk "pembunuhan, penyiksaan dan penculikan siswa dan guru, serta pembakaran fasilitas pendidikan", menurut laporan internal yang diberikan kepada Al Jazeera awal tahun ini.

Dari serangan tersebut, 30 dilakukan serangan dilakukan oleh kelompok separatis yang mengakibatkan 10 kematian warga sipil dan 67 penculikan.

Lima insiden lainnya melibatkan pasukan keamanan pemerintah termasuk “pelepasan senjata secara tidak sengaja” di dekat sekolah dan mengakibatkan lima warga sipil cedera.

Sekolah telah menjadi titik serangan utama sejak awal konflik ketika separatis menyerukan boikot pendidikan untuk menarik perhatian pada peningkatan penggunaan bahasa Prancis di kelas dan ketergantungan pada guru berbahasa Prancis monolingual.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar